REFLEKSI BUMI MANUSIA

Roman Bumi manusia memang bukan hal baru di dunia sastra Indonesia bahkan dunia. Dulu semenjak saya kuliah pun teman saya sudah membaca romah ini dan pelengkapnya yang tersusun dalam tetralogi Pulau Buru. Karena background saya adalah teknik, maka dulu saya tidak terlalu menghiraukan dan tertarik dengan buku roman, dunia saya dulu dihiasi buku-buku hitungan, gambar teknik dan lain sebagainya. Setelah lulus dan bekerja saya mulai lebih menyukai membaca, menyempatkan membeli buku-buku bacaan yang menginspirasi, bahkan sampai pada roman Bumi Manusia ini. Ketertarikan saya dengan sejarah itu tumbuh karena saya melihat bahwa sejarah itu menarik sekali, bahkan jika menelisik sejarah tulis di  Indonesia begitu menarik, dimana jaman dulu orang-orang bahkan sudah membuat surat kabar dan menulis dengan baik. Kesukaan itu dipupuk juga dengan kebiasaan setiap hari melihat video di youtube tentang ulasan perang, misalnya perang dunia III, pertempuran stalingrad dan masih banyak lagi, program Jas merah yang di ampu oleh Muhidin M. Dahlan di channrl Mojok juga menjadi kesukaan tontonan saya ketika makan. Maka dari kebiasaan iila akhirnya saya membeli buku di pusat perbukuan di Kota Surabaya, dan saya mulai membacanya.

 

Sebagai seorang awam, Bumi Manusia telah membawa pengatahuan sejarah baru bagi saya, yang kisah itu tidak diajarkan di sekolah formal, dan menurut saya inilah beberapa hal yang bisa diambil dari roman tersebut :

 

1. Pengatahuan baru tentang sejarah

Setelah membaca roman ini , gambaran saya mengenai masa kolonial itu sangat berbeda, sejarah yang ada di buku pelajaran menggambarkan tidak secara utuh bagaimana dahulu di zaman kolonial kehidupan masyarakat terjadi. Dalam angan-angan saya dulu pribumi itu adalah masyarakat yang selalu di tindas, di hajar di pukul layaknya seorang budak, karena memang gambaran belanda dalam sejarah yang dulu saya baca begitu kejam, namun nyatanya ada juga pribumi yang menjadi pejabat, menjadi priyayi, walaupun memang ketidak adailan itu nyata adanya namun di dalam pribumi sendiri ternyata ada orang yang bekerjasama bahkan bekerja untuk orang-orang belanda. Buku ini juga membawa wawasan bagaimana pergaulan dan kehidupan sehari-hari pada masa itu, baik di lingkungan masyarakat, ada berbagai macam bangsa yang hidup dalam satu lingkungan ada orang pribumi, eropa, bahkan tionghoa, dan bagaimana zaman dulu itu perdagangan internasional juga sudah banyak dilakukan, bahkan ada kapal rutin dari belanda ke jawa dan juga bagaimana dulu sudah ada perusahaan-perusahaan yang sudah berdiri dan melakukan produksi. Misalnya saja perusahaan milik Nyai ontosoroh ini, ternyata zaman dulu itu semaju itu, kehidupan di kalangan priyayi dan atas ternyata begitu mewahnya, dan juga sudah terpenuhi kehidupan dasarm bahkan berbagai teknologi juga dimiliki. Hal ini bertentangan dengan gambaran fikiran saya dulu mengenai masa kolonial, dimana rakyat pribumi itu kelaparan, kekurangan pangan, tidak punya rumah, tidak memiliki pakaian dan hidupnya selalu mendarita, tidak mengenal tulisan, tidak ada teknologi dan semacamnya, namun buku ini telah membuat gambaran berbeda mengenai masa kolonian Hindia Belanda di dalam benak saya.

 

2. Hidup dalam ketidak-adilan

Didalam buku Bumi Manusia, dijelaskan bahwa banyak kasus terjadi ketidak adilan yang terjadi di kehidupan pada masa itu, dimana dalam kasus ini Tokoh utama Minke sebenarnya memiliki kecerdasan dan kemampuan melebihi temn-teman yang lain di sekolahnya, namun nyatanya dia tetap mendapatkan diskriminasi, baik dari teman-teman sekolahnya, maupun dari orang eropa lainnua. Pada masa itu bangsa eropa seakan menjadi bangsa yang paling baik sehingga memandang rendah pribumi, apalagi hal itu diperkuat dengan kebiasaan masyarakat kita dulu yang terlalu feodal sehingga semakin membawa angin segar bagi bangsa eropa di Hindia Belanda untuk berlaku seperti raja dan semena-mena dengan bangsa pribumi. Nyatanya pada masa perang dunia, Bangsa eropa pun juga tidak sebaik bangsa Indonesia, disana juga terjadi kelaparan, kesulitan, saling menyerang dan kelakuan yang tidak beradab lainnya, sehingga budaya eropa yang di eluh-eluhkan oleh orang belandan yang tinggal di Indonesia itu menurut saya juga tidak mencerminkan secara total jehidupan mereka di tanah airnya sendiri. Didalam buku tersebut juga digambarkan bagaimana ketidak adilan itu nyata ketika keputusan pengadilan belanda memutuskan bahwa anelis harus di pulangkan ke belanda, tidak mengakui minke sebagai suaminya, dan harta dan perusahaan nyai ontosoroh di ambil sepenuhnya oleh warga belanda, yaitu anak dari herman mellema suami yai ontosoroh yang bertindak keji telah secara licik memutar balikkan fakta, supaya harta itu memang jatuh ke tangannya. Disana orang belanda seakan buta dan tuli akan perjuangan pribumi yaitu nyai Ontosoroh yang telah membuat perusahaan maju dan berkembang. Tindakan tersebut mencerminkan kalaubangsa Eropa tidak menempatkan bangsa pribumi sebagai manusia yangs etara dengan mereka, dan tentunyam asih banyak lagi ketidak adilan yang ditunjukkan dalam butu tersebut

 

3. Fakta Pernikahan Belanda - Pribumi

Berdasarkan bayangan saya karena keterbatasan akan bacaan sejarah dan hanya mengandalkan bacaan sejarah dari sekolah, maka dulu saya pikir penindasan belanda ke warga Indonesia itu sangat keji dan terus-menerus. Tetapi dengan membaca buku ini, menggambarkan sisi lain yang tidak saya ketahui sebelumnya, dimana dahulu banyak juga pernikahan antar Bangsa Eropa/ Belanda dengan warna Pribumi. Sehingga dari pernikahan itu di hasilkan keturunan yang disebut INDO, yaitu anak yang setengah Belanda dan setengah Indonesia. Penjajahan yang dilakukan belanda di indonesia selama ratusan tahun telah membuka peluang untuk bercampurnya 2 bangsa yang berbeda ini, namun pernikahan inipun juga tidak sering terjadi dikarenakan pada masa itu warga belanda merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada warga pribumi. Adapun kasus yang dialami oleh Nyai Ontosoroh itu merupakan kejadian yang awalnya tentu tidak di kehendaki oleh Nyai ontosoroh sendiri, dimana beliau di paksa oleh orang tuanya untuk dijadikan selir tuan Herman Mellema. Pernikahan atau hubungan antara Bangsa Pribumi dan Belanda dikemudian hari akan menyebabkan konflik baru, seperti yang dialami oleh Anelis dan keluarga,dimana secara hukum belanda Anelis yang merupakan seoran Indo, dianggap warga belanda dan tidak mempan dengan aturan hukum yang ada di Indinesia, termasuk Nyai Ontosoroh yang pernikahanya dengan Herman Mellema yang tidak dianggap ada oleh hukum Belanda, sehingga keluarga belanda dari Hermal mellema bisa mengambil alih seemua harta  yang selama ini diperjuangkan Oleh Nyai ontosoroh, karena dianggap harta itu adalah milik Herman mellema yang seorang belanda, dan hukum belanda tidak mengakui adanya Nyai ontosoroh.

 

4. Persahabatan antar Bangsa

Peran minke dalam cerita berhubungan dengan orang-orang dari berbagai bangsa. Salah satu contohnya adalah hubungan minke dengan ibu pemondokan/kost yang merupakan orang belanda, juga hubungan baik minke dengan gurunya yang erat dan menjadi satu-satunya orang yang mendukung Minke disaat yang lain membenci dan membullynya.Magda Peters, gurunya tersebut memberikan banyak solusi dalam berbagai masalah yang dialami oleh minke.

Dan yang tidak bisa dilupakan yaitu persahabatan Minke dengan Pelukis berkebangsaan Perancis mantan anggota KNIL, yaitu Jean Marais. Persahabatan keduanya terjadi sudah lama, bahkan Minke lah yang mencarikan pelanggan Jean agar lukisannya laku. Dan anak Jean yang bernama May juga sangat disayangi Minke bagaikan seorang anak sendiri. Fakta ini memberikan gambaran bahwa dahulu kehidupan sosial juga terbentuk di masa kolonial walaupun ada perbedaan suku, ras dan agama.

 

5. Pejabat dan Pemerintah Kolonial

Sebuah fakta sejarah unik yang dalam buku pelajaran di sekolah tidak ada itu adalah adanya kerjasama antara pejabat pribumi dan pemerintah kolonial, sehingga bisa dikatakan pejabat pribumi adalah kepanjangan dari pemerintah kolonian Belanda. Hal itu dapat ditemukan dalam beberapa kejadian yanga da di dalam buku, dimana Ayah dari Minke diangkat menjadi Bupati, dan para pejabat belanda diatasnya juga hadir, mereka berpesta bersama, dan banyak kejadian-kejaidian lain yang menegaskan itu. Dahulu ketika saya bersekolah, saya suka membaca pelajaran sejarah, yang di ajarkan di dalamnya adalah kepahlawanan dan perlawanan terhadap VOC maupun pemerintah Kolonial Belanda, namun disana tidak disebutkan bagaimana pejabat pribumi jaman dulu begitu mesra dengan Belanda.

 

Jika saya menuliskan semua hal yang saya anggap baru dan unik di buku Bumi Manusia, mungkina ada puluhan nomor, namun pada intinya Buku ini memang memberikan gambaran kehidupan ketika Zaman kolonial Belanda dulu, pembaca seakan dibawa menuju lorong waktu dan mendarat di tahun dimana setting cerita terjadi. Dengan berbagai macam gambaran kehidupan kolinal dulum gambaran kehidupan bangsa Indonesia pada zaman itu dan berbagai cerita sosial yang menyertainya, bahkan fakta pahit yang ada, pantas saja dulu buku ini sempat dilarang peredarannya, karena memang mengungkap berbagai sejarah baru yang belum diungkap di buku pelajaran sekolah. Membaca Bumi Manusia memberikan pengetahuan dan refleksi tentang bagaimana Bangsa Indonesia dulu terbentuk dengan bergbagai konflik dan intrik yang menyertainya, dan cerita ini tidak hanya sampai ketika Anelis di berangkatkan ke Belanda , cetia masih berlanjut di buku selanjutnya..

Komentar

Postingan Populer